Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Kacamata Mashasan:paper.id,salah satu Accounting Software Indonesia

 

Accounting Software Indonesia

Paper.id merupakan salah satu Software Accounting di Indonesia.Paper.id ini mempunyai keunggulan yang unik dan menjadi selling point dari produk Accounting software indonesia ini.Paper.id mengedepankan proses transaksi yang bersifat paperless,semua transaksi berbasis digital.

Selain itu paper juga menyediakan portal pembayaran digital melalui paper pay in dan paper pay out.

Dari proses Purchasing sampai degan pelaporan keuangan di integrasikan degan link dan media di cloud yang memungkinkan pengguna mengakses data tanpa mencetak.Banyak pengguna yang tertarik karena fitur digital invoicing dengan kemudahan banyaknya pilihan metode pembayaran.

Mashasan.com menyempatkan diri untuk mencoba dan simulasi transaksi menggunakan paper.id ini.Setelah menguji dan melihat output yang dihasilkan,mashasan.com berpendapat bahwa paper.id Accounting Software indonesia ini “RECOMENDED”

untuk mencobanya anda bisa KLIK DISINI

 Sebelum menggunakan Paper.id lebih jauh, ada baiknya Anda mengikuti langkah-langkah untuk mempersiapkan bisnis Anda ketika menggunakan Paper.id. Anda dapat memulainya dari membuat :

1.Mitra

2.Produk

3.Invoice penjuala

4.KYC (Validasi online payment)

5.Isi modal awal

accounting software indonesia
    Aplikasi paper.id adalah aplikasi berbasis webbased.Aplikasi ini dapat di akses dengan web browser dan aplikasi mobile.Menurut menurut mashasan.com aplikasi ini cenderung cucuk untuk bisnis dengan traffic transaksi rendah,misalnya projek atau perdagangan besar dengan intensitas transaksi rendah.
Aplikasi ini kurang cocok jika digunakan untuhuliu transaksi dengan intensitas/frekuensi transaksi tinggi misalnya retail.Aplikasi berbasis web based dengan akses browser sangat tergantung dengan akses internet yang menjadikan responsifitas proses entry transaksi sangat berbeda dengan aplikasi berbasis local area network.
    Aplikasi paper.id telah di lengkapi modul modul akuntnsani sampai dengan laporan keangan. Disamping itu opsi pajak pada tiap transaksi bisa variatif menyesuaikan kebutuhan kita.
Kekurangan aplikasi paper.id ini menurut kacamata mashasan antara lain :
1. Belum adanya fitur manajemen fixed Asset
2. Belum adanya sistem payroll
3. Belum lengkapnya penyajian laporan keuangan yang lebih detail
4. belum adanya aplikasi yang memungkinkan mode offline untuk menunjang frekuensi transaksi yang tinggi.
    Untuk anda yang ingin mencoba fitur-fiturnya bisa melihat dan menguji fitur fiturnya terlebih dahulu sebelum mengimplementasikan pada bisnis anda.Selamat Mencoba.






 





Closing Tahunan,rutinitas penting dalam pelaporan keuangan

 

Closing Tahunan

Closing tahunan atau tutup tahunan adalah sebuah proses dimana catatan transaksi dalam 1 tahun periode akuntansi di tutup.Dalam proses ini laporan kuengan 1 periode akuntansi akan di bentuk,apa pemindahan saldo dari laba tahun berjalan ke saldo laba di tahan,atau laba di bukukan.Dari laba yang di bukukan biasanya perusahaan akan mengambil keputusan pembagian deviden atau keputusan lain melalui Rapat Umum Pemegang Saham.

Disamping itu,catatan pajak dalam 1 periode akuntansi akan dihitung,dilaporkan dan dibayarkan sesuai dengan Tax Planning yang sudah di susun perusahaan.Perhitungan pajak ini tentunya akan terintegrasi langsung dalam database DJP,sehingga mempermudah proses penghitungan dan pelaporan pajak.

Di indonesia periode akuntansi dan tahun pajak menurut peraturan berawal dari bulan januari sampai degan bulan desember.Dan untuk batas waktu pelaporan Pajak SPT tahunan yaitu bulan april untuk badan dan bulan maret untuk perurangan.

Di samping point-point penting dalam standard pelaporan keuangan,menurut mas hasan Dalam Closing Tahunan ada proses penting yang perlu di perhatikan untuk mengoptimalkan akurasi data dan pelaporan keuangan antara lain :

1. Auditting

Audit adalah proses pengumpulan dan pemeriksaan bukti mengenai informasi  catatan transaksi guna menentukan dan membuat laporan terkait tingkat kesesuaian antara informasi dan kriteria yang ditetapkan.Dengan adanya audit maka proses validasi pencatatan transaksi dengan bukti transaksi di periksa dan di laporkan sesuai degan kriyeria dan standard pelaporan keuangan.Dalam Closing tahunan audit bisa melibatkan 2 sisi ya itu internal Audit dan External Audit.Proses Auditing bisanya di lakukan akhir tahun atau pada awal tahun periode akuntansi sebelum batas pelaporan SPT tahunan  berakhir.

Audit juga bisa di lakukan dari beberapa sisi atau beberapa siklus,Misalnya Tax Auditing,Audit Siklus Persediaan,Audit siklus arus kas dan lain sebagainya.

2. Tax Planning

Perencanaan pajak yang telah di rumuskan dan di jalani dalam 1 masa periode akuntansi harus diperiksa ulang untuk memastikan bahwa pajak dan pelaporanya sudah sesuai degan peraturan perpajakan indonesia.Data dan catatan pajak di rekap untuk di laporkan dalam SPT tahunan,pastikan sudah di periksa dengan benar untuk mencegah kesalahan pelaporan.

Perencanaan pajak yang matang akan mempermudah kitaa dalam pengelolaan laporan keuangan dan untuk tujuan pengambilan keputusan bagi perusahaan.Selain itu degan tax planing,rencana dan realisasi anggatan perusahaan juga bisa di susun sesuai dengan peraturan perpajakan.

3. Sistem Informasi Akuntansi

Sistem informasi akuntansi yang di gunakan atau Software Accounting yang di gunakan juga harus sesuai degan standard penyajian laporan keuangan.Baik dari proses mastering,pencatatan transaksi sampai ke pelaporan harus mengikuti aturan Standard Akuntansi keuangan.Software Accounting yang sifatnya tidaks sesuai standard atau setengah-setengah hanya akan merepotkan kita sendiri dalam proses pelaporan keuangan.Selain itu metode pencatatan transaksi dan pelaporan keuangan pada Software Accounting juga harus difahami,seperti apa output yang dihasilkan.Tak jarang juga kita harus menyesuaikan atau koreksi,misalnya dari standard Komerseial ke standard fiskal.

4. Time Line/Schedulling

Pelaksanaan closing tahunan juga harus di rencanakan,mengigat banyak hal yang hasur dilakukan sebelum closingtahunan seperti Audit,Stock Opname,rekonsiliasi dan yang lainnya.Pastikan waktu waktu telah di tetapkan dan dijalankan agar tidak meleset dari bata waktu yang di tentukan.Batas waktu dapat di tentukan oleh manajemen,RUPS atau berdasarkan batas waktu maksimal pelaporan SPT tahunan. Kebiasaan menunda proses atau step step dalam pelaporan keuagan hanya akan menumpuk pekerjaan dimana nanti dapat mempengaruhi kecepatan dan akurasi laporan yang di sajikan.

dalam proses Closing tahunan akan terjadi pemindahaan saldo,yaitu saldo akhir tahun ditutup menjadi saldo awal tahun berjalan.DI point ini banyak hal yang harus di perhatikan seperti posisi laporan keungan ,penghitungan akun-akun yang akan di pindah saldo dan komponenen lain yang akan di keluarkan dari laporan keungan.

Bak Dunia Update Ekonomi Regional, Oktober 2022

 

Asia Timur dan Pasifik Mempertahankan Pertumbuhan, Menahan Inflasi, tetapi Menghadapi Risiko ke Depan




WASHINGTON, 26 September 2022 – Pertumbuhan di sebagian besar negara berkembang Asia Timur dan Pasifik pulih kembali pada tahun 2022 dari dampak COVID-19, sementara China telah kehilangan momentum karena langkah-langkah yang berkelanjutan untuk menahan virus tersebut, menurut laporan Bank Dunia, Senin.

 

Ke depan, kinerja ekonomi di seluruh kawasan dapat dikompromikan dengan melambatnya permintaan global, meningkatnya utang, dan ketergantungan pada perbaikan ekonomi jangka pendek untuk meredam kenaikan harga pangan dan bahan bakar.

pertumbuhan di Asia Timur dan Pasifik di luar China diperkirakan akan meningkat menjadi 5,3% pada tahun 2022 dari 2,6% pada tahun 2021, menurut Pembaruan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Bank Dunia Oktober 2022. China, yang sebelumnya memimpin pemulihan di kawasan, diproyeksikan tumbuh sebesar 2,8% pada tahun 2022, penurunan tajam dari 8,1% pada tahun 2021. Untuk kawasan secara keseluruhan, pertumbuhan diproyeksikan melambat menjadi 3,2% tahun ini dari 7,2% pada tahun 2021, sebelum meningkat menjadi 4,6% tahun depan, kata laporan itu.

“Pemulihan ekonomi sedang berlangsung di sebagian besar negara Asia Timur dan Pasifik,” kata Wakil Presiden Bank Dunia Asia Timur dan Pasifik Manuela V. Ferro. “Ketika mereka bersiap untuk memperlambat pertumbuhan global, negara-negara harus mengatasi distorsi kebijakan domestik yang merupakan hambatan bagi pembangunan jangka panjang.”

 

Pertumbuhan di sebagian besar Asia Timur dan Pasifik telah didorong oleh pemulihan permintaan domestik, dimungkinkan oleh pelonggaran pembatasan terkait COVID, dan pertumbuhan ekspor. China, yang merupakan sekitar 86% dari output kawasan, menggunakan langkah-langkah kesehatan masyarakat yang ditargetkan untuk menahan wabah virus, menghambat kegiatan ekonomi.

Perlambatan ekonomi global mulai mengurangi permintaan ekspor komoditas dan barang-barang manufaktur kawasan. Meningkatnya inflasi di luar negeri telah memicu kenaikan suku bunga, yang pada gilirannya menyebabkan arus keluar modal dan depresiasi mata uang di beberapa negara Asia Timur dan Pasifik. Perkembangan ini telah meningkatkan beban pembayaran utang dan ruang fiskal yang menyusut, merugikan negara-negara yang memasuki pandemi dengan beban utang yang tinggi.

 

Ketika negara-negara di kawasan ini berusaha untuk melindungi rumah tangga dan perusahaan dari harga pangan dan energi yang lebih tinggi, langkah-langkah kebijakan saat ini memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan, tetapi menambah distorsi kebijakan yang ada. Kontrol harga pangan dan subsidi energi menguntungkan orang kaya dan menjauhkan pengeluaran pemerintah dari infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Kesabaran peraturan yang berkepanjangan, yang bertujuan untuk memudahkan pinjaman melalui pandemi, dapat menjebak sumber daya di perusahaan yang gagal dan mengalihkan modal dari sektor atau bisnis yang paling dinamis.

Para pembuat kebijakan menghadapi tradeoff yang sulit antara mengatasi inflasi dan mendukung pemulihan ekonomi,” kata Kepala Ekonom Bank Dunia Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo. “Kontrol dan subsidi sinyal harga berlumpur dan merusak produktivitas. Kebijakan yang lebih baik untuk makanan, bahan bakar, dan keuangan akan memacu pertumbuhan dan menjamin terhadap inflasi.”

 

Setelah di hantam Covid19 dan Perang,Apakabar perkembangan Kemiskinan Dunia?

 

memerangi kemiskinan

Bank Dunia-WASHINGTON, 5 Oktober 2022—Dunia tidak mungkin mencapai tujuan untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem pada tahun 2030 tanpa adanya tingkat pertumbuhan ekonomi yang menentang sejarah selama sisa dekade ini, menurut sebuah studi baru Bank Dunia. Studi ini menemukan bahwa COVID-19 memberikan kemunduran terbesar bagi upaya pengurangan kemiskinan global sejak 1990 dan perang di Ukraina mengancam untuk memperburuk keadaan.

Laporan Kemiskinan dan Kemakmuran Bersama terbaru Bank memberikan pandangan komprehensif pertama pada lanskap global kemiskinan setelah serangkaian guncangan luar biasa terhadap ekonomi global selama beberapa tahun terakhir. Diperkirakan bahwa pandemi mendorong sekitar 70 juta orang ke dalam kemiskinan ekstrim pada tahun 2020, peningkatan satu tahun terbesar sejak pemantauan kemiskinan global dimulai pada tahun 1990. Akibatnya, diperkirakan 719 juta orang hidup dengan kurang dari $2,15 per hari pada akhir tahun. 2020.

“Kemajuan dalam mengurangi kemiskinan ekstrem pada dasarnya terhenti seiring dengan pertumbuhan ekonomi global yang lemah,” kata Presiden Grup Bank Dunia David Malpass. “Yang menjadi perhatian misi kami adalah meningkatnya kemiskinan ekstrem dan penurunan kemakmuran bersama yang disebabkan oleh inflasi, depresiasi mata uang, dan krisis tumpang tindih yang lebih luas yang dihadapi pembangunan. Ini berarti pandangan suram bagi miliaran orang di seluruh dunia. Penyesuaian kebijakan makroekonomi diperlukan untuk meningkatkan alokasi modal global, mendorong stabilitas mata uang, mengurangi inflasi, dan memulai kembali pertumbuhan pendapatan median. Alternatifnya adalah status quo—pertumbuhan global yang melambat, suku bunga yang lebih tinggi, penghindaran risiko yang lebih besar, dan kerapuhan di banyak negara berkembang.”

Laporan tersebut menunjukkan tahun 2020 menandai titik balik bersejarah—ketika era konvergensi pendapatan global menghasilkan perbedaan. Orang-orang termiskin menanggung biaya pandemi yang paling parah: kerugian pendapatan rata-rata 4% untuk 40% termiskin, dua kali lipat kerugian 20% orang terkaya dari distribusi pendapatan. Akibatnya, ketidaksetaraan global meningkat untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Langkah-langkah kebijakan fiskal yang kuat membuat perbedaan penting dalam mengurangi dampak COVID-19 terhadap kemiskinan. Faktanya, tingkat kemiskinan rata-rata di negara berkembang akan menjadi 2,4 poin persentase lebih tinggi tanpa respons fiskal. Namun pengeluaran pemerintah terbukti jauh lebih bermanfaat bagi pengurangan kemiskinan di negara-negara terkaya, yang umumnya berhasil sepenuhnya mengimbangi dampak COVID-19 terhadap kemiskinan melalui kebijakan fiskal dan langkah-langkah dukungan darurat lainnya. Negara-negara berkembang memiliki sumber daya yang lebih sedikit dan oleh karena itu menghabiskan lebih sedikit dan mencapai lebih sedikit: ekonomi berpenghasilan menengah ke atas mengimbangi hanya 50% dari dampak kemiskinan, dan ekonomi berpenghasilan rendah dan menengah-bawah mengimbangi hampir seperempat dari dampak tersebut.

Resiko Resesi Global Tahun 2023 Meningkat Di Tengah Kenaikan Suku Bunga Serentak

 

krismon 2023


Bak Dunia-WASHINGTON, 15 September 2022—Ketika bank-bank sentral di seluruh dunia secara bersamaan menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap inflasi, dunia mungkin sedang menuju resesi global pada tahun 2023 dan serangkaian krisis keuangan di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang yang akan membuatnya bertahan lama. membahayakan, menurut sebuah studi baru yang komprehensif oleh Bank Dunia.

Bank-bank sentral di seluruh dunia telah menaikkan suku bunga tahun ini dengan tingkat sinkronisitas yang tidak terlihat selama lima dekade terakhir—sebuah tren yang kemungkinan akan berlanjut hingga tahun depan, menurut laporan tersebut. Namun lintasan kenaikan suku bunga yang diperkirakan saat ini dan tindakan kebijakan lainnya mungkin tidak cukup untuk membawa inflasi global kembali ke tingkat yang terlihat sebelum pandemi. Investor mengharapkan bank sentral menaikkan suku bunga kebijakan moneter global hingga hampir 4 persen hingga 2023—peningkatan lebih dari 2 poin persentase di atas rata-rata 2021 mereka.

Kecuali gangguan pasokan dan tekanan pasar tenaga kerja mereda, kenaikan suku bunga tersebut dapat membuat tingkat inflasi inti global (tidak termasuk energi) sekitar 5 persen pada tahun 2023—hampir dua kali lipat rata-rata lima tahun sebelum pandemi, demikian temuan studi tersebut. Untuk memangkas inflasi global ke tingkat yang konsisten dengan target mereka, bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga dengan tambahan 2 poin persentase, menurut model laporan. Jika ini disertai dengan tekanan pasar keuangan, pertumbuhan PDB global akan melambat menjadi 0,5 persen pada 2023—kontraksi 0,4 persen dalam istilah per kapita yang akan memenuhi definisi teknis dari resesi global.

“Pertumbuhan global melambat tajam, dengan kemungkinan perlambatan lebih lanjut karena lebih banyak negara jatuh ke dalam resesi. Kekhawatiran mendalam saya adalah bahwa tren ini akan bertahan, dengan konsekuensi jangka panjang yang menghancurkan orang-orang di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang,” kata Presiden Grup Bank Dunia David Malpass. “Untuk mencapai tingkat inflasi yang rendah, stabilitas mata uang, dan pertumbuhan yang lebih cepat, para pembuat kebijakan dapat mengalihkan fokus mereka dari mengurangi konsumsi ke meningkatkan produksi. Kebijakan harus berusaha untuk menghasilkan investasi tambahan dan meningkatkan produktivitas dan alokasi modal, yang sangat penting untuk pertumbuhan dan pengurangan kemiskinan.”

Studi ini menyoroti keadaan luar biasa penuh di mana bank sentral memerangi inflasi hari ini. Beberapa indikator historis resesi global sudah memberikan peringatan. Perekonomian global saat ini mengalami perlambatan paling tajam setelah pemulihan pasca-resesi sejak tahun 1970. Kepercayaan konsumen global telah mengalami penurunan yang jauh lebih tajam daripada menjelang resesi global sebelumnya. Tiga ekonomi terbesar dunia—Amerika Serikat, Cina, dan kawasan euro—telah melambat tajam. Dalam keadaan seperti itu, bahkan pukulan moderat terhadap ekonomi global selama tahun depan dapat membawanya ke dalam resesi.

Studi ini mengandalkan wawasan dari resesi global sebelumnya untuk menganalisis evolusi aktivitas ekonomi baru-baru ini dan menyajikan skenario untuk 2022–24. Perlambatan—seperti yang sekarang sedang berlangsung—biasanya memerlukan kebijakan kontra-siklus untuk mendukung aktivitas. Namun, ancaman inflasi dan keterbatasan ruang fiskal mendorong para pembuat kebijakan di banyak negara untuk menarik dukungan kebijakan bahkan ketika ekonomi global melambat tajam.

Pengalaman tahun 1970-an, respons kebijakan terhadap resesi global tahun 1975, periode stagflasi berikutnya, dan resesi global tahun 1982 menggambarkan risiko membiarkan inflasi tetap tinggi untuk waktu yang lama sementara pertumbuhan lemah. Resesi global 1982 bertepatan dengan tingkat pertumbuhan terendah kedua di negara berkembang selama lima dekade terakhir, kedua setelah 2020. Resesi ini memicu lebih dari 40 krisis utang] dan diikuti oleh satu dekade pertumbuhan yang hilang di banyak negara berkembang.“Pengetatan kebijakan moneter dan fiskal baru-baru ini kemungkinan akan terbukti membantu dalam mengurangi inflasi,” kata Ayhan Kose, Penjabat Wakil Presiden Bank Dunia untuk Pertumbuhan, Keuangan, dan Institusi Bank Dunia. “Tetapi karena mereka sangat sinkron di seluruh negara, mereka dapat saling memperparah dalam memperketat kondisi keuangan dan mempertajam perlambatan pertumbuhan global. Pembuat kebijakan di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang harus siap untuk mengelola potensi dampak dari pengetatan kebijakan yang sinkron secara global.”